SEJARAH INDONESIA MASA
KEMERDEKAAN 1945-1965
( Sejarah Perjuangan Kemerdekaan RI Di Daerah Luwu )
Oleh:
KISMAN
A1A2
11 037
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN SEJARAH
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
HALUOLEO
KENDARI
2013
A.
Luwu Dalam
Mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia (23 Januari
946)
Kemerdekaan Republik
Indonesia, 17 Agustus 1945 bukan hadiah dari bangsa penjajah, akan tetapi
ditebus melalui tetesan air mata, pertumpahan darah dan bahkan jiwa sekalipun. Peristiwa
23 Januari 1946 merupakan salah satu bentuk perjuangan rakyat Luwu dalam
mempertahankan Kemerdekaan dari belenggu penjajahan. Berikut kilas balik
Perjuangan Rakyat Luwu, 23 Januari ke-61 yang dipusatkan di Kabupaten Luwu
Utara.
Seluruh Kepala Daerah
yang ada di Tana Luwu (Luwu, Kota Palopo, Luwu Utara, dan Luwu Timur termasuk
Tana Toraja) termasuk Pejabat penting dari Provinsi Sulawesi Selatan, 23
Januari 2007 berada di Luwu Utara untuk memperingati hari perjuangan rakyat
Luwu. Sejarah perjuangan rakyat Luwu bagi masyarakat Tana Luwu menjadi momentum
yang cukup penting sepanjang zaman bagi masyarakat Luwu khususnya dan bangsa
Indonesia pada umumnya.
Peristiwa 23 Januari
1946 merupakan salah satu rangkaian proses perjuangan bangsa Indonesia yang cukup
panjang. Di dalamnya terdapat berbagai faktor dan variabel-variabel sosial,
politik, ekonomi dan lain-lain. Sejarah perjuangan rakyat Luwu, 23 Januari
sebagai wujud nyata kebangkitan dan kesadaran masyarakat Luwu dalam
mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia yang dipelopori oleh Pemuda dan
Pemerintah Kerajaan Luwu. Dua hari sesudah Proklamasi Kemerdekaan yaitu pada
tanggal 19 Agustus 1945 jam 23.00 malam atas prakarsa tujuh orang pemuda di
Palopo, Andi Makkulau Opu Dg. Parebba (alm.), M. Yusuf Arief (alm.), Andi
Achmad, Mungkasa (alm.), Andi Tenriadjeng (alm), H. Abd. Kadir Daud (alm.), dan
M. Guli Dg. Mallimpo (alm.), membentuk suatu organisasi yang bernama “Soekarno
Muda”.
B.
Organisasi Soekarno
Muda Setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945
Tujuan dari
organisasi ini adalah mengadakan perampasan senjata dari tangan Jepang untuk
membela Kemerdekaan Indonesia yang telah diproklamasikan pada tanggal 17
Agustus 1945 oleh Bung Karno dan Bung Hatta atas nama bangsa Indonesia. Pada
keesokan harinya, tujuh pemuda tersebut menghadap Paduka Andi Djemma Datu Luwu
sebagai Kepala Pemerintahan Kerajaan Luwu pada waktu itu. Dalam pertemuan yang
berlangsung selama empat jam, diambil keputusan untuk mengirim delegasi ke
Makassar yang menunjuk M. Sanusi Dg. Mattata sebagai wakil Pemerintah dan Andi
Makkulau mewakili pemuda menghadap DR. Ratulangi yang saat itu menjabat sebagai
Gubernur Sulawesi. Maksud dari pengiriman delegasi asal Luwu ini adalah untuk
mendapatkan penjelasan-penjelasan dan petunjuk tentang negara Republik
Indonesia yang baru saja diproklamirkan.

Gambar :
presiden Soekarno bersama dengan Datu luwu Andi Djemma
Selama dua hari
delegasi tersebut kembali dari Makassar dan membawa hasil bahwa benar Bung
Karno dan Bung Hatta telah memprolamirkan 17 Agustus 1945 ke seluruh dunia.
Untuk itu rakyat Luwu harus membelanya sampai tetesan darah penghabisan.
Demikianlah, semangat perjuangan rakyat Luwu terus dikobarkan mulai dari Kota
Palopo sampai ke distrik-distrik atau kesatuan-kesatuan pergerakan di seluruh
pelosok desa, kampung dan gunung-gunung. Meskipun badan-badan atau
kelompok-kelompok perjuangan ini beraneka ragam, tetapi mempunyai tekad dan
tujuan yang satu yakni, “Merdeka atau Mati”. Sebagai langkah pertama dilakukan
rakyat Luwu ketika itu adalah mengadakan perampasan senjata oleh segenap
kesatuan lasykar masing-masing. Khusus Pusat Komando sasaran perampasan senjata
di tangsi lama.
Selain itu, diadakan
pusat latihan Pemuda yang diambil dari tiap-tiap Desa atau Kampung. Setelah
latihan dikembalikan ke desanya/kampungnya masing-masing guna melatih
Pemuda-pemuda di daerahnya. Sementara di Makassar sendiri telah diduduki
tentara Nica dan mulai melakukan peranannya untuk mengembalikan kekuasaannya ke
Indonesia. Ketika itu terdengar kabar bahwa Nica akan mengadakan Konfresi
Raja-Raja di Makassar. Atas prakarsa Andi Djemma Datu Luwu, diadakan Konfrensi
Raja-Raja di Watampone. Dalam Konfrensi tersebut, Paduka Andi Djemma Datu Luwu
mengeluarkan pernyataan: “Luwu berdiri di belakang Rebuplik Indonesia, daerah
Luwu adalah daerah yang tak terpisahkan dengan Republik Indonesia.”
C.
Konfrensi Pemuda Di
Sengkang Dan Perlawanan Oleh Tentara Nica
Setelah konfrensi
tersebut, kemudian disusul dengan konfrensi Pemuda di Sengkang. Salah satu
keputusannya ialah apabila salah satu daerah diserang musuh, maka daerah lain
harus bergerak untuk mencegah dan memecah belah kekuatan musuh. Pada awal bulan
Oktober 1945 tentara Sekutu dalam hal ini Australia menduduki Kota Palopo di
bawah pimpinan Mayor Right dengan tugas melucuti senjata Jepang. Atas hasil
pertemuan antara sekutu dengan kerajaan Luwu, tentara Sekutu menjelaskan bahwa
mereka hanya melucuti tentara Jepang, hal mana diterima Kerajaan Luwu. Namun
demikian Kerajaan Luwu tetap tidak menerima Nica yang datang untuk mengembalikan
penjajahan. Situasi ini tentunya menimbulkan ketegangan antara tentara Nica
dengan Pemerintah kerajaan Luwu. Pada saat itulah, peranan dan sikap yang
patriotik lasykar Pemuda Larompong sebagai pengawal pintu gerbang masuk di
wilayah Kerajaan Luwu dapat membendung dan menghalau terobosan konvoi pasukan
Nica. Hambatan Pemuda Larompong ini telah membuat kesulitan Konvoi tentara Nica
untuk menerobos wilayah Kerajaan Luwu.
Makanya Tentara Nica
tersebut mencari jalan alternatif lain yakni melalui Enrekang-Toraja untuk
sampai di Palopo sebagai ibu Kota Kerajaan Luwu. Setelah berada di Luwu, ajakan
Sekutu mula-mula berjalan biasa, tetapi lama kelamaan situasi agak tegang
karena tentara Sekutu sudah mulai memperlihatkan belang sesungguhnya. Sebab
ketika itu tentara Sekutu yang dibencengi Nica mulai mengingkari janjinya.
Menyikapi masalah ini, Pemerintah Kerajaan Luwu kembali melakukan pertemuan dan
mengambil keputusan bahwa keamanan kota dan sekitarnya dipertanggungjawabkan
oleh Polisi Istimewa dibawah pimpinan Andi Achmad yang terdiri dari bekas-bekas
Heiho. Keadaan kota Palopo ketika itu tidak menentu, disana sini sering terjadi
perkelahian antara Pemuda dan tentara Nica KNIL. Sementara itu, tentara Nica
menjalankan Politik adu dombanya sehingga berhasil mempengaruhi beberapa kaum
bangsawan.
Andi Muhammad Kasim
sebagai Sullewatang Ngapa di Kolaka memimpin gerakan Pemuda. Andi Muhammad
Kasim bersama dengan lasykarnya berhasil mengumpulkan senjata api sebanyak 80
pucuk. Pada tanggal 19 Nopember 1945 pasukan ternyata Nica di bawah pimpinan
Letnan Boon dari jurusan Kendari. Pasukan Nica ini mendapat perlawanan hebat
dari Pemuda-pemuda Kolaka. Bahkan Letnan Boon sebagai Komando tentara Nica saat
itu berhasil ditawan. Atas peristiwa ini, Nica kembali melakukan taktik liciknya
dengan mengajak Pemerintah Kerajaan Luwu untuk berunding. Hasilnya, Letnan Boon
yang ditawan ditukar dengan pemuda-pemuda Luwu yang ditawan Australia.
Sementara di Palopo
dan sekitarnya, Nica semakin memperuncing keadaan. Tentara Nica saat itu melakukan
teror terhadap warga. Tak segan-segan tentara penjajah ini melakukan penyiksaan
fisik terhadap penduduk termasuk mengotori rumah-rumah ibadah. Melihat sikap
Nica yang semakin beringas tersebut, Pemerintah bersama Pemuda Luwu mengambil
keputusan bahwa Nica bersama antek-anteknya harus diusir dari Tana Luwu
khususnya dan Indonesia pada umumnya. Akhirnya tanggal 23 Januari 1946 pukul
03.00 dinihari, rakyat Luwu yang gugur dalam melumpuhkan musuh. Pemuda ketika
itu berhasil menguasai kota palopo sampai tanggal 25 Januari 1946. Mendapat
serangan yang begitu dahsyat dari rakyat Luwu, tentara Nica yang bermarkas di
Makassar mengirim bala bantuan yakni sebuah kapal perang untuk menggempur
habis-habisan Kota Palopo dari udara. Setelah Kota Palopo dikosongkan oleh
Pemuda, maka tentara Nica melakukan pendaratan. Untuk menghindari banyak rakyat
Luwu jatuh korban, Sri Paduka Datu Luwu bersama Permaisurinya dan seluruh
perangkat kerajaan luwu serta pimpinan kelasykaran memutuskan untuk mengadakan
perlawanan dari hutan-hutan dengan cara bergerilya.
Demikan perjuangan
pemerintah kerajaan Luwu bersama dengan rakyatnya dihutan-hutan dengan cara
bergerilya sampai kesulawesi tenggara (Latou) menyebrang melalui Malangke.
Disinilah (Latou,red) Sri Paduka Datu Luwu menjalankan roda pemerintahan dan
memimpin perlawanan rakyat luwu dalam mengusir penjajahan di Tanah Luwu. Untuk
menyempurnakan organisasi perjuangannya, maka dibentuklah PKR Luwu. Sehingga
tidak ada cela di Tana Luwu yang tidak luput dari perlawanan rakyat.
Konsolidasi
perlawanan terakhir pemuda ialah Masamba Affair yang sampai getarannnya di
Konfrensi Meja Bundar di Denhak Belanda. Perlawanan Pemuda Masamba yang dikenal
dengan Masamba Affair ini secara politis telah membuka mata dunia bahwa
Indonesia Timur masih ada perlawanan rakyat . Perjuangan rakyat Luwu ini
dikukuhkan dengan piagam penghargaan angkatan perang Republik Indonesia tanggal
05 Oktober 1951
